Senin, 20 Juli 2009
Pembenahan PSSI Perlu untuk Atasi Kekerasan
"Jangan sampai kompetisi di Divisi Utama, Divisi I maupun Divisi II dijadikan ajang 'balas dendam'." Demikian salah satu intisari dari pertemuan sejumlah mantan pemain nasional, yang dilakukan Rabu (7/9) kemarin di Restoran Putt Putt Golf di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Hadir pada pertemuan ini pemain-pemain nasional tahun 1960-an sampai 1980-an, yang sebagian besar sudah menjadi pelatih. Mereka antara lain Bob Hippy, Sinyo Aliandoe, Ronny Pattinasarany, Sutan Harhara, Bambang Nurdiansyah, Nobon, Herry Kiswanto, Andi Slamet, dan Ronny Tanuwijaya.
Menurut Sinyo Aliandoe, kekerasan yang terjadi dalam kompetisi sepak bola nasional, baik itu di Divisi Utama, Divisi I, Divisi II atau Piala Indonesia, sudah sangat memprihatinkan dan merisaukan. Hal ini disebutya tak terlepas dari tidak adanya kewibawaan dari perangkat pertandingan. Kurang wibawanya perangkat pertandingan itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari adanya carut-marut yang terjadi di kepengurusan PSSI.
Perubahan
Andi Slamet bahkan menegaskan, situasi carut-marut itu akan terus terjadi seandainya tidak terjadi perubahan dalam kepengurusan PSSI sekarang ini. Dalam kaitan itu, Andi Slamet menyarankan perlunya dilakukan pergantian dalam kepengurusan PSSI saat ini. "Sekarang ini sudah tak bisa lagi dipertahankan," katanya.
Sinyo dan Ronny Pattinasarany lebih jauh menegaskan tentang perilaku pemain asing yang ikut memperburuk citra sepakbola Indonesia sekarang. Sebagian besar pemain asing yang berkompetisi di Divisi Utama dan Divisi I dinilai tidak melalui pemilihan yang selektif. "Ini yang harus dicermati," kata Ronny.
Herry Kiswanto yang saat ini menangani Persikabo Kabupaten Bogor, melukiskan bagaimana keselamatannya sangat terancam karena dikejar-kejar oleh pendukung Persemai Dumai. (wgm-22)
Kardono "Migunani" Kini Telah Tiada
Kardono yang kelahiran Godean, Yogyakarta, 12 Desember 1929, dimakamkan di TMP Nasional Kalibata, kemarin siang dengan inspektur upacara Wakasau Marsdya TNI Wartoyo setelah diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Cipinang Cempedak II/56, Jakarta Timur dengan inspektur upacara Aspers Kasau Marsda TNI Bambang Risharyanto dengan upacara militer, pukul 12.30.
Di antara para pelayat, tampak mantan Kapolri Jenderal Pol (Purn) Awaloedin Djamin serta kalangan militer, dua orang putri mantan Presiden Soeharto, Mamiek dan Titik Prabowo serta sejumlah artis.
Kardono yang pernah memimpin PSSI selama delapan tahun pada era 1983-1991, meninggal setelah dirawat di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan sejak Rabu lalu karena menderita kanker. Menurut mantan Sekum PSSI Nugraha Besoes, almarhum menderita kelenjar getah bening sejak dua bulan lalu.
Almarhum meninggalkan seorang istri, RA Rochayatun, 67, beserta lima anak (dua perempuan) serta 11 orang cucu. Kelima anaknya adalah Dewi Rudjiati, 46; Arman Suyadi, 44; Sujono, 42; Guntur Pawoko, 39; dan Woro Indriati, 37.
Kardono sudah sering menjalani pemeriksaan kesehatan di National University Hospital, Singapura. Dia merupakan purnawirawan TNI AU dengan pangkat terakhir Marsekal Madya, pernah menjabat sebagai Dirjen Perhubungan Udara.
Di kancah olahraga (sepakbola), Kardono muncul ke tampuk pimpinan PSSI ketika sepakbola Indonesia selalu kalah dari tim luar negeri dan kepemimpinan PSSI mengalami krisis. Kardono yang kemudian namanya jadi kesohor setelah "bergulat" dengan sepakbola, muncul membawa harapan, terpilih sebagai Ketua Umum PSSI lewat Kongres Luar Biasa pada November 1983, mengalahkan banyak saingan, di antaranya pengusaha Probosutedjo yang memiliki klub Mertju Buana.
Naiknya Kardono yang merupakan pembina Klub Angkasa, ketika itu sudah diatur oleh panitia kongres. Sebelum utusan perserikatan dari berbagai daerah datang ke kongres, Pengurus Harian PSSI Supajo Pontjowinoto mengirimkan telegram yang isinya hanya Kardono yang direstui oleh pimpinan nasional untuk jabatan Ketua Umum PSSI.
***
SEPERTI dikutip dari buku "Apa dan Siapa", kongres pun berjalan cukup tegang, bahkan Solichin GP beserta sejumlah peserta dari Komda PSSI Jabar meninggalkan sidang ketika berlangsung pemilihan ketua umum. Tetapi ganjalan kongres itu tidak berlarut-larut, dan penggemar sepakbola menaruh harapan besar kepada Kardono karena tokoh ini dekat dengan pimpinan nasional, sebab jabatannya ketika itu.
Dibawah kendalinya, PSSI sempat beberapa kali merebut prestasi membanggakan. Diantaranya ketika Timnas berada dalam asuhan Bertje Matulapelwa, mampu menyodok keempat besar Asian Games 1986. Timnas PSSI mampu merebut medali emas di SEA Games 1987 dan 1991. Saat menjuarai SEA Games 1987 Timnas diasuh Bertje Matulapelwa, sedangkan pada tahun 1991 dilatih oleh Anatoly Polosin dan Urin. Di kejuaraan junior Asia, Timnas PSSI pernah menjadi juara lima kali berturut-turut sejak 1984 hingga 1988.
Pada 1985, Timnas PSSI gagal meraih tiket ke Piala Dunia 1986 di Meksiko, hanya menjadi juara sub grup 3-B Asia. Pada penentuan juara grup, PSSI disisihkan Korea Selatan. Pelatih Timnas PSSI Pra Piala Dunia ketika itu, Sinyo Aliandoe menjadi bulan-bulanan kecaman masyarakat. Tetapi Kardono justru memuji Aliandoe. "Aliandoe punya prinsip dan pendirian yang tegas. Saya menghargai sikap itu," kata Kardono yang menyebut kegagalan itu bukan kesalahan pelatih.
Separuh masa jabatan Kardono di PSSI disibukkan oleh masalah suap. Ia mengakui, sulit membawa kasus suap ke pengadilan karena belum ada bukti kuat untuk bisa membawa kasus itu ke pengadilan seperti diungkapkannya kepada Komisi IX DPR, Mei 1985.
***
EMPAT baris kata-kata bijak di atas, adalah tuntunan hidup yang dihayati sepenuhnya oleh Kardono, "wewarah" yang diperolehnya dari almarhum mertua dan ayah ibunya, yang kini diwariskan kepada para penerusnya.
Wewarah (nasehat) orang tua itu, dituangkannya sebagai kata-kata pembuka dalam buku "Migunani" (hidup ada arti) yang ditulis oleh Kardono sendiri pada Mei 2001. Buku yang hanya berisikan 23 halaman dan banyak dihiasi foto-foto kegiatan pengabdiannya itu lebih menyuguhkan filosofi tentang kehidupan dan betapa sakralnya arti agama.
Di antara tuturnya, adalah hidup harus berguna, bermanfaat hanya dengan usaha atau bekerja. Bekerja menjadi keharusan, kewajiban hidup. Hidup adalah bekerja dan bekerja adalah untuk hidup. Bukan diartikan sebagai hidup untuk makan, sekalipun makan untuk bisa hidup. "Amatlah menyedihkan, bilamana orang tidak mengetahui dan masih tidak tahu tentang apa yang dikehendaki, atau apa yang menjadi kemauannya."
Kardono memiliki pembawaan yang tenang, dikenal sebagai pejabat yang hidup sederhana. Ayahnya hanya seorang petani kecil di Desa Godean, Yogyakarta, dan Kardono kecil menghabiskan sekolahnya di Yogya hingga tamat SMA. Kemudian melanjutkan di Sekolah Tinggi Teknik Bagian Geodesi di Bandung, 1951.
Hingga akhir hayatnya, Kardono aktif dalam 16 yayasan, meliputi bidang-bidang pendidikan, keluarga, sepakbola, masjid, makam, sosial, yatim piatu, beasiswa, rumah sakit dan lingkungan hidup. Ia pernah membantu penghijauan dengan menanam lebih dari 33.000 pohon di Sulteng, Jabar, DKI, Jateng dan Jatim. Ikut memberikan bantuan modal kepada lebih dari 400.000 KK pedagang kecil dengan bunga rendah di DIY, serta bantuan beasiswa sebanyak 3.067 pelajar SD, SMP, dan SMA di DIY.
"Berkarya mengurus yayasan inilah menjadi kegiatan sehari-hari penulis untuk mengisi sisa-sisa hidup pada usia lansia," sebut Kardono sendiri.
Diantara untaian petuah yang ditinggalkannya melalui bukunya itu, ada pula kalimat yang bisa diambil makna dan manfaatnya. "Mereka yang berhasil ternyata lebih banyak tergantung pada cara dan banyaknya bakat yang ada padanya untuk dimanfaatkan." Dan, "Hanya dengan pertolongan Tuhan segala sesuatu akan dapat berhasil."
Selamat jalan Kardono, Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.
(taufiq rasjid)
Sumber: http://203.130.242.190//artikel/12685.shtml
Jumat, 03 Juli 2009
Mengenang Kemenangan 23 Tahun Silam
WASIT asal Jepang, Toshikazu Sano meniupkan peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Sontak, seperti terlihat di layar TVRI, segelintir pendukung Indonesia yang hadir di Stadion Nasional Bangkok, bersorak kegirangan.
Di lapangan, pelatih Sinyo Aliandoe dan seluruh anggota skuadnya, juga tampak mengekspresikan kegembiraannya dengan berbagai cara. Kegembiraan dan kebanggaan pun, hampir bisa dipastikan menjadi milik jutaan penggemar sepak bola nasional yang nongkrong di depan layar kaca ketika itu.
Momentum membanggakan itu terjadi pada Jumat, 29 Maret 1985, ketika Herry Kiswanto dan kawan-kawan mempermalukan Thailand 1-0 di depan puluhan ribu pendukungnya sendiri. Gol hasil tendangan Heri Kiswanto ke gawang Thailand dari jarak sekitar 40 meter, gagal dibalas Vitthaya Laohakul dkk. Kemenangan ini terasa dramatis, karena timnas harus bermain 10 orang menyusul diusirnya Rully Nere dari lapangan.
Sinyo Aliandoe menurunkan formasi Hermansyah (kiper), Ristomoyo, Marzuki Nyakmad, Heri Kiswanto, Warta Kusumah, Aun Harhara, Elly Idris, Zulkarnain Lubis, Bambang Nurdiansyah, Rully Nere, dan Wahyu Tanoto. Sedangkan pelatih Thailand, Sainor Chaiyong menurunkan Chalit Suttabin (kiper), Voravudh Daengsamer, Surak Chaikitti, Sompong Wattana, Sangnapol Chalermvud, Sutin Chaikitti, Chalor Hongkajohn, Thanis Areesngarkul, Sompong Nantapraparsil, Vitthaya Laohakul, dan Vitoon Kijmongkol.
Bagi Indonesia, kemenangan itu sekaligus mengukuhkan dominasi atas Thailand pada babak kualifikasi Piala Dunia 1986 Zona Asia Sub Grup IIIB. Sebab, pada laga pertama di Stadion Utama Senayan Jakarta, 14 hari sebelumnya, tim Merah Putih juga menang 1-0 lewat gol tunggal Dede Sulaeman pada menit ke-84.
Berkat kemenangan itu pula, Indonesia yang dalam tiga pertandingan sebelumnya tak terkalahkan, berhasil mengamankan tiket ke babak selanjutnya untuk menantang juara Subgrup IIIA, Korea Selatan, meski dalam dua laga terakhirnya dikalahkan Bangladesh 1-2 dan bermain imbang dengan India 1-1. Meski akhirnya Indonesia gagal lolos ke Meksiko, tempat putaran final Piala Dunia 1986 dipentaskan, karena kalah 0-2 dan 1-4 dari Korea Selatan, dua kemenangan atas Thailand itu tetap menjadi kenangan indah buat publik sepak bola nasional hingga saat ini.
Momentum 23 tahun silam itu memang hanya tinggal kenangan. Itulah kemenangan terakhir timnas atas Thailand. Sejak saat itu, timnas tak pernah bisa lagi mencatat kemenangan atas "Negeri Gajah Putih" itu dalam berbagai pertandingan yang oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) masuk dalam kategori "A". Jaya Hartono dan Robby Darwis memang pernah mengalahkan Thailand pada perebutan medali perunggu SEA Games 1989 di Kuala Lumpur dan final SEA Games 1991 di Manila. Tetapi, karena diraih melalui drama adu penalti, dua keberhasilan itu tidak dimasukkan FIFA ke dalam statistik kemenangan, melainkan dianggap seri.
Sejak kemenangan terakhir di Bangkok itu, Indonesia sudah bertemu 14 kali dengan Thailand. Hasilnya, 6 kali kalah dan 8 kali seri. Satu kekalahan timnas yang paling memalukan adalah ketika dibantai Thailand 7-0 di SEA Games 1985 di Bangkok. Ada juga kekalahan 2-3 yang diwarnai insiden gol bunuh diri secara sengaja oleh Mursyid Effendi pada Piala Tiger 1998 di Ho Chi Minh City, Vietnam.
Secara keseluruhan, sejak pertama kali bertemu di Turnamen Merdeka Games 1957, hingga menjelang babak semifinal pertama Piala AFF 2008 di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Selasa (16/12) ini, timnas sudah bertarung 58 kali dengan Thailand. Dari rekor pertemuan tersebut, statistik masih menunjukkan dominasi Thailand, karena mereka bisa menang dalam 27 pertemuan, sedangkan Indonesia hanya mencatat 15 kali kemenangan dan 16 pertemuan sisanya berakhir imbang.
Saking kuatnya dominasi Thailand atas Indonesia, menjelang pertemuannya yang ke-59 di babak semifinal Piala AFF 2008 di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Selasa (16/12), bayang-bayang kegagalan pun tetap menghantui tim Merah Putih. Namun, penggemar sepak bola nasional tentu berharap, tim asuhan Benny Dollo bisa mengakhiri dominasi Thailand itu. Ya, semua berharap, kemenangan 23 tahun silam di Bangkok bakal terulang di Senayan. Semoga! (Endan Suhendra/"GM")***
sumber :
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=48310Tatkala Kata Kehilangan Makna
Ditulis oleh Choki Sihotang (Penulis adalah pemerhati sepakbola nasional)
Siapa yang ingin menjadi pemimpin, baiklah dia mafhum bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang permanen. Kepemimpinan berarti bhakti yang harus dipertanggungjawabkan, dimana orang yang dipimpin merupakan hakim yang sesungguhnya. Jadi, seorang despot, cepat atawa lambat, akan terjungkal oleh waktu.
Kita ingat Mohammad Reza Pahlevi. 26 Oktober 1976, setelah memerintah selama 26 tahun di atas Takhta Merak, pemimpin berjuluk Syah ini – dengan suatu upacara gemerlapan, tentu saja – memahkotai dirinya sendiri dan istrinya menjadi raja dan ratu di atas singgasana Persia yang telah berusia 2.500 tahun.
Dalam satu wawancara dengan wartawan US News and World Report pada bulan Juni 1978, Syah berkata,”Tak ada orang yang dapat menggulingkan aku. Aku didukung oleh 70.000 pasukan. Semuanya pekerja dan kebanyakan dari rakyat”.
Waktu terus bergerak, berpacu. Hanya berselang enam bulan, Syah Reza digulingkan ulama gaek yang selama 15 tahun hidup dalam pengasingan di Prancis, Ayatullah Khomeini. Khomeini, - demikianlah sejarah mencatat - kemudian mendirikan Republik Islam Iran . Khomeini tak didukung oleh berlaksa-laksa tentara bersenjata pleno, seperti halnya Syah, melainkan sebuah elan membara : pengabdian kepada Islam.
PENGABDIAN. Sebuah kata yang kehilangan makna kini. Tatkala pengabdian kehilangan makna, kita tak lagi punya pedoman guna melakukan sesuatu sebagai wujud tanggungjawab. Pengabdian, dengan kata lain, kita lakoni secara serampangan. Itulah sebabnya, kita tak perlu heran jika ketidakpastian menjadi identitas kita di sini, di Indonesia ini. Kasus demi kasus tak tertuntaskan, menggantung. Lembaga peradilan sebagai benteng terakhir kepastian hukum, mandul. Hukum hanya milik orang-orang berduit. Bagi yang tak punya duit, terus diinjak dan kian ternafikan.
Di bidang olahraga, khususnya sepabola, sami mawon. Sebagai contoh, seorang teman pernah berkata kepada saya, pada sebuah malam yang basah di Jakarta : Menurut bung, kapan kira-kira Timnas Sepakbola kita berlaga di pentas dunia? Saya tak punya jawaban yang bagus untuk pertanyaannya. Makanya saya lebih memilih diam seraya menghela napas panjang. Karena diam, menurut saya, lebih arif daripada seribu kata sonder kepastian.
Boro-boro Piala Dunia, di pentas Asia Tenggara saja, prestasi terbaik kita tertoreh di SEA Games Manila , Filipina, 17 tahun lampau. Saat itu, Maman Suryaman dan kawan-kawan dengan langkah tegap menerima kalungan medali emas. Indonesia Raya berkumandang, menggelegar.
Prestasi terbaik di Asia , yakni Asian Games 1986. Ricky Yacobi dkk menempatkan Indonesia bertenger di peringkat empat. Prestasi cemerlang lain, timnas besutan Sinyo Aliandoe membawa Herry Kiswanto dkk menjuarai Sub-Grup IIIB Pra Piala Dunia 1986. Setelah itu, prestasi timnas terjun bebas.
Gelontoran dana yang melimpah tak jua mampu mengembalikan kedigdayaan Indonesia di level Asia . Pelatih-pelatih asing diimpor. Hasilnya , Indonesia tetap saja jadi bulan-bulanan. “ Dulu , Thailand , Singapura , Vietnam , dan Malaysia bukan lawan sepadan kita. Kita terlalu kuat bagi mereka. Di kawasan Asia Indonesia begitu disegani,” kata Sinyo Aliandoe kepada saya, dalam sebuah pembicaraan santai di kawasan Senayan, Jakarta .
Kenapa itu bisa terjadi? Mungkin kita lupa wejangan Bung Karno: Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Sejarah menjadi semacam acuan buat kita untuk melangkah ke depan. Artinya, yang jelek diperbaiki. Yang bagus dipertahankan dan alangkah bahagianya kalau itu dapat ditingkatkan.
Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) selaku badan otorita tertinggi sepakbola di Tanah Air – ya ampun – juga tak maksimal dan kalau ditilik dari prestasi timnas malah boleh dibilang mengalami kemunduran. Bagaimana tidak. Sejak berdiri 19 April 1930, baru kali inilah Ketua Umum PSSI dipenjara. Nurdin Halid, politisi Partai Golongan Karya itu terpaksa mendekam di balik jeruji besi lantaran korupsi.
Saya menghormati pernyataan Nurdin Halid yang mengatakan bahwa ini tak ada hubungannya dengan sepakbola. Tapi, faktanya, eksistensinya di dalam bui berdampak kepada citra PSSI.
Tak sedikit yang mendesak agar Nurdin Halid legowo melepaskan jabatannya. Putra Makassar itu dinilai gagal menjalankan tugas. Bagi saya, persoalannya bukan diganti atau tidak. Sejak reformasi menggelinding hampir satu dasawarsa lalu, Indonesia sudah dipimpin empat presiden. Namun, situasi dan kondisi dihampir semua lini tak berubah ke arah yang lebih signifikan.
Jika dipikir-pikir, di Indonesia ini banyak orang yang pintar. Dari profesor, jenderal, sampai paranormal berderet bak antrean kendaraan bermotor di SPBU. Toh tak membawa efek positif. Tak ada kerjasama. Tak ada unity. Tak ada kerendah hatian. Saling jegal. Saling kritik. Saling menjatuhkan. Semua ingin menjadi pahlawan.
Ada kata-kata sarkastis yang dikatakan artoo-detoo yang tak rancak untuk didengar : Berbahagialah orang-orang yang mengkritik bukan untuk jadi pahlawan. Karena jadi pahlawan adalah naik takhta. Dan naik takhta cenderung korup.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Departemen Pendidikan Nasional, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Persoalannya sekarang, masih adakah pemimpin atau pahlawan saat ini benar-benar membela kebenaran? Saya skeptis. Soalnya, kalimat sindiran seperti maju tak gentar membela yang bayarlah yang acapkali kita dengar. Dan kalau mau jujur memang demikianlah adanya. Kita butuh seorang pemimpin berjiwa pahlawan yang punya semangat pengabdian yang tulus.
sumber :
http://bolanova.com/2008/01/11/tatkala-kata-kehilangan-makna/Kamis, 02 Juli 2009
NURDIN DIHUKUM Nirwan Bakrie Pantas Pimpin PSSI
JAKARTA (Suara Karya): Memang sudah saatnnya Nirwan Dermawan Bakrie muncul ke permukaan untuk memimpin PSSI. Adik kandung Menkokesra Aburizal Bakrie ini dinilai pantas menggantikan posisi Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang divonis hukuman dua tahun dan denda Rp 30 juta oleh Makamah Agung (MA) atas kasus korupsi minyak goreng.
sumber :
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=182402
Masih Berkiblat Ke Brazil
Masih Berkiblat Ke Brazil
sumber :
Sinyo Aliandoe Akan Dimintai Klarifikasi soal Tuduhan Suap
Jakarta, Kompas - Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Andi Darussalam Tabussala mengakui sulit membuktikan adanya dugaan praktik suap di kalangan wasit sepak bola nasional. Tetapi, sekitar 97 persen pertandingan yang diadakan di kandang dari klub-klub yang berlaga di kompetisi Liga Bank Mandiri, hasil akhirnya selalu menguntungkan tuan rumah. Sulit menilai apakah kondisi itu terkait erat dengan adanya praktik suap yang dilakukan klub tuan rumah terhadap aparat pertandingan.
PSSI juga mengakui, dugaan suap yang melanda perwasitan sebetulnya tidak perlu terjadi jika klub atau aparat pertandingan menjaga mental dan moral mereka, demi kemajuan persepakbolaan nasional.
Untuk menindaklanjuti pernyataan Pelatih Persema Malang Sinyo Aliandoe yang melihat adanya gelagat kinerja wasit yang cenderung berpihak pada tuan rumah Persipuar Jayapura dalam pertandingan akhir pekan lalu, Tabussala hari Rabu (20/3) ini bertolak ke Makassar untuk menemui Sinyo, dan meminta klarifikasi ucapannya mengenai dugaan suap di harian ini beberapa hari lalu.
Ini dikemukakan Tabussala, yang didampingi Sekjen PSSI Tri Goestoro, kepada pers di Sekretariat PSSI di Jakarta hari Selasa petang. "Sulit memang membuktikan adanya dugaan suap sebagaimana dilontarkan Sinyo. Tetapi, saya akui, 97 persen pertandingan kandang memang memberikan keuntungan kepada klub tuan rumah. Apakah ini ada suap, sulit membuktikannya," papar Tabussala.
Menurut dia, pihaknya belum melihat cara yang jitu untuk menumpas habis suap, dan hanya meminta semua pelaku sepak bola nasional memelihara mental dan moral masing-masing. "Ini semua memang berpulang kepada mental dari kita semua. Komdis PSSI hanya bisa mengembalikan semuanya kepada klub dan wasit. Mereka semua, mau atau tidak, harus menjunjung tinggi sportivitas dan profesionalisme," tegas Tabussala.
Menyinggung soal kedatangan Tabussala ke Makassar, Sinyo mengakui siap memberikan keterangan yang diperlukan Komdis PSSI. "Saya tetap siap memberikan keterangan soal gelagat yang tidak benar, yang dilakukan wasit, yang merugikan klub kami saat bertandang ke Jayapura, dan kalah 0-3 dari tuan rumah Persipura. Saya melihat ada keanehan. Semua orang tahu, wasit tidak melakukan tugasnya dengan baik. Wasit yang sengaja dan wasit yang tidak sengaja melakukan kesalahan, akan terlihat dengan jelas. Saya juga melihat, kebanyakan pertandingan kandang selalu menguntungkan tuan rumah. PSSI harus mengkaji ini untuk kemajuan sepak bola nasional di masa depan," ucap Sinyo.
Menyangkut kemungkinan PSSI menjatuhkan sanksi kepada Sinyo jika ia tidak bisa membuktikan ucapannya dengan data, Tabussala dengan tegas mengatakan, "Tidak ada sanksi apapun untuk Sinyo. Saya hanya akan bertemu dan mengumpulkan keterangan sebanyak mungkin dari Sinyo." (BW)
sumber :
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0203/20/or/siny24.htm